- Di era informasi digital, berita negatif seperti banjir bandang—datang deras dan sulit dihindari. Mulai dari kriminalitas, bencana alam, hingga konflik politik, 90% konten media didominasi kabar buruk. Padahal paparan berita negatif selama 14 menit saja bisa memicu kecemasan dan
mood
turun.
Dilansir dari VeryWellMind.com pada Selasa (22/04), konsumsi berita berlebihan ibarat makan junk food setiap hari: mengenyangkan tapi merusak kesehatan mental. Psikolog klinis Logan Jones, PsyD, memperingatkan bahwa sensasionalisme media bisa mengaktifkan respons 'fight or flight' , membuat tubuh terus memproduksi hormon stres. Lalu, bagaimana tetap update tanpa terganggu kesehatan jiwa?
Dampak Negatif 'Keracunan' Berita
Otak manusia dirancang untuk lebih sensitif terhadap ancaman, mirip seperti alarm mobil yang mudah berbunyi saat ada gangguan kecil. Sayangnya, media kerap memanfaatkan insting ini dengan menyajikan 90% konten bernada krisis. Akibatnya, tubuh terus mengeluarkan kortisol—hormon stres yang memicu gangguan tidur, kecemasan, hingga penurunan konsentrasi.
Studi di jurnal Health Psychology membuktikan, orang yang terpapar berita negatif cenderung mengalami headline stress disorder . Gejalanya mirip kecanduan: ingin terus refresh feed berita meski hati semakin resah. Bayangkan seperti menonton film horor sendirian di malam hari—semakin ditonton, semakin susah tidur!
Batasi Waktu Konsumsi: Maksimal 30 Menit/Hari
Membiarkan TV menyala atau notifikasi berita terus berbunyi di ponsel sama seperti menghirup polusi udara perlahan-lahan. Haley Neidich, LCSW, menyarankan untuk membatasi total paparan berita dan media sosial hanya 30 menit sehari. Gunakan timer atau fitur screen time di smartphone sebagai pengingat.
Untuk pekerja kantoran, coba teknik 'informasi terjadwal': baca headline pagi hari selama 10 menit, lalu update singkat sore hari. Hindari membuka berita sebelum tidur—efeknya seperti minum kopi di malam hari, bisa mengacaukan kualitas istirahat.
Pilih Sumber Kredibel & Hindari 'Hoax Spiral'
Tidak semua media memberitakan gempa dengan cara sama. Ada yang fokus pada kerusakan, tapi ada juga yang menyoroti aksi relawan. Psikolog Annie Miller menekankan pentingnya memilih outlet berita dengan reputasi baik dan sudut pandang seimbang. Contoh di Indonesia, cek fakta melalui situs resmi seperti turnbackhoax.id sebelum membagikan berita.
Hati-hati dengan algoritma media sosial. Semakin sering kita klik berita negatif, semakin banyak konten serupa yang dijejalkan platform . Ini ibarat hanya makan mi instan setiap hari—lambat laun, persepsi kita tentang dunia jadi distorted .
Detoks Digital dengan Aktivitas Positif
Setelah membaca berita berat, segera lakukan aktivitas yang mengembalikan energi positif. Psikolog Ashleigh Edelstein merekomendasikan ritual pemulihan: jalan kaki 10 menit, telepon teman, atau membuat teh hangat. Di Indonesia, kegiatan seperti mendengarkan podcast humor atau merajut bisa jadi pilihan.
Teknik 'worry time' juga efektif: alokasikan 15 menit khusus untuk memproses informasi serius, lalu tutup dengan afirmasi: "Aku sudah memahami situasi, sekarang saatnya fokus pada hal yang bisa aku kendalikan."
Filter Informasi via Orang Terdekat
Bagi yang rentan anxiety , tak perlu memaksakan diri langsung konsumsi berita. Minta pasangan atau sahabat untuk menyaring informasi penting mingguan. Di Jepang, tren 'news fasting' (puasa berita) mulai populer sebagai bentuk proteksi mental.
"Kita tidak wajib menonton semua kebakaran hutan di dunia untuk memahami bahaya perubahan iklim," kata Neidich. Terkadang, mengetahui inti masalah dari orang tepercaya lebih sehat daripada menyelam sendiri di lautan informasi traumatis.
Posting Komentar untuk "Terlalu Sering Nonton Berita? Hati-Hati Mental Bisa Drop! Ini 5 Cara Bijak Konsumsi Informasi"