Definisi Akidah Dalam satu riwayat diceritakan bahwa Malak Jibril pernah datang kepada Rasulullah dengan menyerupai manusia dan bertanya tentang tiga hal yaitu Iman, Islam dan Ihsan. Tiga hal yang merupakan dimensi ajaran (syariat) Islam, Keimanan merupakan konsepsi akidah Islam yang menjadi Ushul (Dasar) dari agama Islam, sedangkan Islam dalam penjelasan hadits tersebut menjelaskan domain syariah dan atau ibadah Amaliyah yang didasarkan pada akidah, kemudian dari akidah dan ibadah tersebut bila dilakukan dengan benar akan melahirkan ihsan dan akhlak mulia yang merupakan misi besar Rasulullah saw. امنا بعثت ألمتم ماكرم ا ألخالق Tiga hal tersebut bila dianalogikan maka ibarat pohon akidah (Iman) sebagai akarnya, Islam (fiqih dan Ibadah) sebagaai batangnya dan ihsan sebagai bunga dan buahnya. Berdasarkan riwayat di atas Syariah dapat dibagi menjadi dua yaitu: I’tiqodiyah dan ‘amaliyah. I’tiqodiyah adalah sesuatu yang menjadi dasar bagaimana perbuatan manusia, atau kepadanya didasarkan bagaimana perbuatan manusia, seperti keyakinan akan Keesaan Allah dan kewajiban menyembah allah Sedangkan ‘amaliyah adalah: sesuatu yang berhubungan dengan bagaimana perbuatan manusia seperti shalat, zakat, puasa dan haji. Maka dari itu keimanan dalam pembahasan ini merupakan dimensi akidah. Akidah secara Bahasa Akidah diambil dari kata al ‘aqdu yang merupakan bentuk infinitive (masdar) darai kata ‘aqoda ya’qidu yang berarti mengikat sesuatu. Akidah merupakan “amalun qolbiyun” atau keyakinan dalam hati tentang sesuatu dan dia membenarkan hal tersebut. Akidah mengikat hati seseorang dengan yang diyakininya sebagai Tuhan yang Maha Esa yang ada yang wajib disembah yang merupakan pencipta dan pengatur alam semesta beserta isinya. Ikatan yang kuat tanpa ada keraguan sedikitpun.
Sedangkan secara istilah aqidah adalah sesuatu yang pertama kali harus diimani dengan yakin oleh seorang mukmin dengan keyakinan yang pasti, ridho dan menerima sepenuh hati serta merasa tenang dengan keyakinannya tersebut. Atau secara sederhana aqidah Islam adalah iman kepada Allah, malaikat Allah, Kitab-kitab Allah, Rasul-rasul Allah, Hari akhir serta qadha’ dan qadar, yang kemudian dikenal dengan rukun Iman. Akidah sebagai hal pertama yang harus diyakini seorang muslim ini menjadikannya sebagai dasar atas praktek beragama seorang muslim juga menjadi dasar dari sahnya amal seorang muslim, dalam kata lain benar atau sahnya suatu amal didasarkan juga pada benarnya akidah. Menurut Yusuf Qardawi Akidah adalah suatu kepercayaan yang meresap ke dalam hati dengan penuh keyakinan, tidak bercampur syak dan keraguan serta menjadi alat kontrol bagi tingkah laku dan perbuatan sehari-hari. Jika kata Akidah diikuti dengan kata Islam, maka berarti ikatan keyakinan yang berdasarkan ajaran Islam. Hal tersebut sama dengan kata iman (keyakinan) yang terpatri kuat dalam hati seseorang muslim. Akidah Islam mengandung arti ketertundukan hati yang melahirkan dan merefleksikan, kepatuhan, kerelaan dan keikhlasan dalam menjalankan perintah Allah Swt. Oleh sebab itu seseorang yang ber- akidah Islamiyah yang benar adalah seseorang yang keterkaitan antara hati, ucapan dan perbuatannya secara kuat dan padu terhadap ajaran Islam sehingga melahirkan akhlak yang terpuji baik terhadap Allah atau terhadap sesama makhluk.
Adapun prestasi seseorang yang belajar ber akidah atau beriman kepada ajaran Islam bertingkat-tingkat sesuai dingan kesucian hatinya dari perbuatan dosanya,apabila ketaatannya kepada Allah telah mampu melenyapkan sifat-sifat buruk yang bersarang dihatinya seperti diantaranya sifat iri, dengki, ria angkuh, sombong, bakhil, malas dll maka ia berhak menyandang gelar mukmin, tapi apabila ia masih suka berbuat maksiat atau dosa, ia bergelar fasiq, mukmin fasiq atau mukmin “’ashi” dan belum pantas menyandang mukmin hal ini sesuai dengan firman Allah Swt dalam surat Al-A’raf ayat 43 dan Al-Hijr ayat 47; َ ٰن هَّليي َهَدى ٱ ي ُديّلِله ۡ َحم ۡ ل ٱ ْ وا ُ قَال َ ُۖ و ُ َۡنََٰر لۡ ٱ ُ يري مين ََتۡييِتم ََتۡ ۡن يغ لّٖ َا َما يِف ُصُدويريِه مي ََزۡعن ن ۡن َ ََل و ٓ َٱ ۡ َو يد َي ل ََنۡتَ ي نها ل َ َما كُ َذا و َٰ َه ي ا ل ي ْ َٱن ت ٓوا نُوُد َ َح ُۖيق و ۡ ل َا يبٱ ين ب َ ۡت ُرُس ُل ر َ ء قَ ۡد َجآ َ ل هُّلِلُۖ َا ٱ ٰن ُوَن َهَدى ل َ ۡعم تَ نُُتۡ ا كُ َ ُوَها يبم ُتم ُة ُٱويرثۡ َجنه ۡ ل ُُُك ٱ ۡ ل ٤٣ Artinya: “Dan Kami cabut segala macam dendam yang berada di dalam dada mereka; mengalir di bawah mereka sungai-sungai dan mereka berkata: "Segala puji bagi Allah yang telah menunjuki kami kepada (surga) ini. Dan kami sekali-kali tidak akan mendapat petunjuk kalau Allah tidak memberi kami petunjuk. Sesungguhnya telah datang rasul-rasul Tuhan kami, membawa kebenaran". Dan diserukan kepada mereka: "ltulah surga yang diwariskan kepadamu, disebabkan apa yang dahulu kamu kerjakan" (QS. AlA’raf:43) ََزۡع ن م ۡن َ ي َا ًن يغ ل َما يِف ُصُدويريِه و ن َٰ َ ۡخو ِ ا َلٰ عَ ُ ُُسر َي ّٖ ي يبل ُّمتَقَ ٤٧َٰ Artinya: “Dan Kami lenyapkan segala rasa dendam yang berada dalam hati mereka, sedang mereka merasa bersaudara duduk berhadap-hadapan di atas dipan-dipan.” (QS. Al-hijr:47) Mukmin fasiq, ‘ashi atau fasiq keimanannya naik turun, keimanan syaithon atau manusia berwatak syaithon turun terus, keimanan malaikat tidak naik dan tidak turun, sementara itu keimanan orang makmin seperti orang yang sholeh dan sholehah, para wali selalu naik keatas mencari kenikmatan spiritual dan meninggalkan selera kenikmatan material.Adapun ruang lingkup akidah menurut pendapat yang popular seperti ulama mesir Abdullah bin Abi Shalah’ (wafat 1830) Adalah iman kepada Allah, para MalaikatNya, Kitab-kitab-Nya, para Rasul-Nya, Hari Akhir dan Qadar baik maupun buruk. Ini juga dikenal dengan rukun iman menurut keimanan pada zaman Rasulullah keimanan para shabat itu meliputi, mereka mempercayai dan menganmalkan seluruh perintah Allah dan Rasulullah dan meninggalkan seluruh larangan-Nya pasti akan mendatangkan kebahagiaan di dunia dan di akhirat baik untuk dirinya atau untuk umat Islam lainnya seperti percaya terhadap pentingnya mengamalkan “rukun iman” persatuan dan persaudaraan umat Islam dan bahayanya perpecahan dan permusuhan anatar umat Islam. Lalu kemudian pada zaman tabiin ulama ahli hadits Imam Abu Bakar Al Baehaqi menyusun kitab Syu’b al iman yang jumlah rukunnya ada 77, menurut ulama tabiin yang lain seperti Abu Hatim bin Hibban ra beliau berpendapat stelahnya meneliti seluruh ayat al-Qur an dan al-Hadits beliau berpendapat bahwa jumlah rukun iman itu ada 79. Oleh karena itu keimanan dalam agama Islam merupakan dasar atau pondasi yang di atasnya dibangun syariat Islam. Antara keimanan dan perbuatan atau akidah dan syariat keduanya saling berkaitan erat, tidak dapat dipisahkan antara satu dengan yang lainnya seperti dua sisi mata uang. apabila akidah dan syariat Islamnya dilaksanakan secara sempurna maka akan melahirkan akhlaq yang terpuji
Posting Komentar untuk "Akidah Islam"